Lagi Asyik Ngajar, Guru Ini Dibogem Orang Tua Siswa

LAMTUR.COM- Mimpi apa semalam Lastini (50), seorang guru SDN 31 Meliau Emplasmen PTPN XIII Gunung Meliau, Desa Meliau Hilir, Kecamatan Meliau, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Dirinya dianiaya orangtua siswa hingga hidungnya luka dan berdarah. Ironinya, peristiwa itu terjadi saat dia sedang mengajar materi ekstrakulikuler ke para siswanya.

Pelaku berinisial Su (48) yang merupakan karyawan kebun PTPN XIII Gunung Meliau sudah diamankan Polsek Meliau untuk diperiksa. Kapolsek Meliau, Iptu RM Pardosi mengatakan, kejadian bermula saat Lastini sedang memberikan materi ekstrakulikuler kepada para murid di lapangan SDN 31 Meliau. Tiba-tiba Su mendatangi Lastini.

“Pelaku kemudian langsung memegang serta menarik kerah baju korban dari depan menggunakan tangan kirinya. Lalu, tangan kanannya langsung memukul korban. Pukulan itu mengenai hidung korban sehingga luka robek serta mengeluarkan darah,” ujar Pardosi seperti dilansir dari okezone.

Akibat penganiayaan yang terjadi Kamis 1 Maret 2018 sekira pukul 15.45 WIB itu, korban mengalami luka di hidung dan sakit pada bagian kepala. Korban langsung dibawa ke Klinik Kebun PTPN XIII Gunung Meliau. “Setelah itu, korban datang ke Mapolsek Meliau untuk mengadukan penganiayaan tersebut,” kata Pardosi.

Atas laporan tersebut, Jumat 2 Maret kemarin siang, anggota Polsek Meliau menangkap Su di kediamnnya di Desa Sungai Mayam, Kecamatan Meliau. “Saat ini pelaku masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Termasuk untuk mengetahui motif penganiayaan ini,” pungkas Pardosi.

Anggota DPRD Kabupaten Sanggau, Akmal menyayangkan kasus orangtua murid menganiaya guru tersebut. Dia menilai hal itu akibat kurangnya komunikasi antara guru dan orangtua murid.

“Orangtua harusnya juga bersikap adil. Jangan hanya menerima laporan dari pihak si anak saja, tanpa konfirmasi ke guru. Guru juga begitu, ketika menegur, harusnya juga disertai surat kepada orang tua murid,” kata Akmal.

Satu sisi, lanjut dia, ketika orang tua memasukkan anaknya ke sekolah, artinya si orang tua percaya buah hatinya akan dididik oleh guru di sekolah tersebut. Ia juga menilai perkembangan teknologi membuat perubahan perilaku di masyarakat.

“Dalu ketika dihukum guru, kita tak bakal berani mengadu ke orang tua. Malah tambah dihukum orang tua (kalau mengadu). Sekarang ini, mungkin karena ingin semuanya itu instan, hanya mendengar dari sebelah pihak,” ujarnya.

Tak mau kejadian serupa berulang, Akmal mengatakan, Komisi A DPRD setempat berencana menyusun regulasi untuk lebih melindungi para pendidik. “Secepatnya kita akan lakukan. Kita akan koordinasi dulu dengan PGRI,” pungkasnya.

Kuy, share ke temanmu

Komentar